friendship

friendship
persahabatan membuat kebahagiaan di selurh dunia

siapa sahabat terbaikmu..

Rabu, 23 November 2011

STORY 2

Malam itu di rumah sakit, ayah dengan tangannya yang masih terbabat dengan perban dan kayu penopang, ikut tidur dikamarku. Aku masih belum dapat bergerak sedikitpun. Dokterpun datang, beliau ternyata juga teman lama ayahku. Beliau adalah dokter organ, dan seorang lagi dokter saraf yang tak kalah tua dari dokter organ itu.he. Datang memeriksa keadaanku saat itu. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya laporan lab dan hasil periksa awal dari dokter pun  keluar. Ayahpun dan ibu dipanggil keruangan dokter. Tidak begitu lama, mereka kembali dengan didampingi dokter dan perawat. Aku lihat wajah ayah begitu sayu dan mata beliau berkaca-kaca. "Maafkan ayah nak, ayah minta maaf.. semuanya salah ayah..," ayahku datang dan lansung memelukku. Ibu yang berdiri dibelakang, hanya menangis kecil sambil memeluk tante yang ada disampingnya saat itu. Aku hanya diam, dan bingung dengan apa yang terjadi. Malam itu, Apa yang dikabarkan dokter , pada kedua orang tuaku..? Apa ini tentang keadaaku, ya.. bagaimana keadaanku..?

Hampir 1 minggu aku berbaring, ditempat tidur, Namun, syukurlah aku sudah  mulai dapat berbicara.  Perlahan-lahan badanku yang dulunya masih lemah, sudah dapat digerakkan. Aku mulai berlatih melambai, aku merasa sepeti orang lumpuh saja, Dan setelah itu kakipun mulai berlatih bergerak dan berjalan. Selama 1 bulan aku, harus berada dirumah sakit, dan satu bulan latihan bergerak dirumah. Sampai akhirnya aku, dapat kembali bergerak dengan normal. Aku bisa berlari, bermaind dengan teman-teman lagi. Dan itu sangat menyenangkan.

Suatu malam, kau teringat. Ayah dan ibu belum menjawab pertanyaanku dulu, sejak berada dirumah sakit. Saat makan malam, akupun menanyakan hal itu kembali. Makan malam yang seblumnya asyik mendengar cerita ayah tentang pekerjaannya, Tiba-tiba saja terdiam sunyi, setelah aku bertanya tentang hal itu. Ayah hanya diam, dan terus makan. Dengan cepat beliau menyelesaikan makannya. Aku menjadi bingung kembali, karena tidak ada menjawab pertanyaanku itu. Lalu ibu berkata "dit, habiskan makanmu dulu,, lalu cuci tangan nanti mama ceritakan". "Iya mam" jawabku.
Ternyata ayah sudah berganti pakaian, "Dit, ayo ikut abah jalan, malan ini abah gak ada kerjaan..",. Aku pun menurut. Dari balik dapur, sambil mencuci pring sehabis mkan, ibu melihat kami berdua berjalan menuju pintu. "Jangan pulang kemalaman ya,bah.". "Iya, ma" sahut ayah. Hanya berjalan kaki, karena rumah kami tidak jauh dari tempat-tempat penting dikotaku, seperti pasar,cafe, taman,.
Ayah mengajakku ketaman bermain, dengan membelikan aku es krim coklat, yang sangat aku sukai., Kami duduk dibangku taman. dan aku duduk di samping ayah. Sambil menonton orang-orang yang lagi foto dan bermain dengan keaksihnya, anak-anaknya ditaman itu. Aku duduk sambil mengayunkan kakiku, yang masih kecil, karena aku masih kecil.he Ayah, menunjuk kelangit "Nak, coba lihat itu bintang apa ?.." seperti yng biasa ayah lakukan dibelakang rumah dipondokan kecil yang kami bangun berdua. "Hmm, itu cancer kan, bah. Ada tiga bintang kecil yang membuat satu garis." itu yang dulu pernah ayah katakan padaku dan malam itu aku menirunya. he "Wah, pinter kau nak,.". "Dengar baik-baik ya, ayah ingin jawab pertanyaanmu tadi waktu makan malam". Padahal aku lupa, tentang pernyataan, saat itu. "iya, bah..". "Ayah, yakin anak ayah ini pasti orang yang paliiing kuat didunia, orang paling hebaaaat, didunia ini nantinya, ya..". Aku hanya memangdang ayah dengan kebingungan. "Terus, kemarin dokter bilang dengan ayah, kalau kepala didit ada terbentur dan itu penyebabkan ada serangan dari penyakit nantinya, jadi anak ayah, harus jaga kepalanya baik-baik ya.." Ayah menjelaskannya sambil, melambai-lambaikan tangannya, untuk menggambarkan apa yang dia jelaskan agar aku mengerti. "Serangan, bah,,?". "Iya, serangan pasukan penyakit yang bisa membuat didit sakit, jadi didit harus menyiapkan senjata sekarang, ayah juga akan bantu. ya.." Jelas ayah dengan matanya yang berkaca-kaca. "mmmm.. iya yah" jawabku, walaupun hanya sedikit yang kupaham saat itu tentang penjelasan ayah. Tiba-tiba ayah mengalihkan pembicaraan, beliau lalu bercerita tentang orang yang selalu senyum itu akan selalu sehat dan makna bintang cancer itu. Itu adalah bintangku ternyata..,he
Tak terasa hampir jam 10 malam kami berduduk di taman, aku sempat berbaring karena sudah mengantuk. AKhirnya ayah membawaku untuk pulang kerumah. Sesampai dirumah, kulihat ibu masih didepan televisi, kulihat mata ibu memerah. Tapi karena kau ngantuk sekali, jadi aku langsung saja beranjak kekamar. Sebelum tidur, ibu datang kekamar. Dan seperti biasa,,, satu cerita lagi sebelum itdur, Tapi ternyata ibu tidak bercerita malam ini. "TIDur ya, nak.".. Namun, ternyata ayah, yg akan memberikan cerita kepadaku.Ayah bercerita tentang hantu,, dan hewan-hewan yang bisa bicara, itu lah yang tidak aku suka kalau ayah bercerita.. ya.. cerita hantu...he, Mata ku mulai sangat mengantuk, dan sambil terpejam,ayah yang sudah selesai bercerita, mencium keningku, aku padahal masih sadar saat itu. "Maaf ayah nak, karna ayah kamu hars mengalami hal ini., "kata ayah didekatku. Mata ku sambil mengintip ayah, ternyata ayah menangis. Lalu dia beranjak keluar kamarku, dan mematikan lamputerang dan diganti dengan lampu tidur yang berbentuk kodok hijau. Akupun tertidur, walaupuntidak bertanya apapun, karna dulu aku tidak terlalu mengerti.

Sabtu, 19 Maret 2011

STORY

Dimulai dari banyak ceritaku, semenjak kecil dilahirkan sendiri, bermain sendiri, tertawa sendiri karena teman khayalan,. Disetiap malam selalu saja merasa kesepian, ya... sebuah kesepian yang tidak terucapkan. Begitu pula semuanya bertambah terbuka, saat ayah dipanggil lebih dahulu oleh sang Khalik. Aku sangat merindukan, semuanya itu. Punya saudara, kembali punya sahabat seperti ayah.
Sejak telah dikirimkannya surat yang berlapis amplop besar itu, semuanya berubah. Semuanya tidak lagi begitu memberikan warna cerah pada kehidupanku. Ya.. memang aku mencoba menjalani semuanya seperti semua orang , tetapi aku sadar , aku mempunyai sebuah batasan besar. Batasan yang membuatku berpikir dua kali atau malah aku harus berpikir lebih.
Telah tertulis, Sklerosis multipel... dengan cetakan tebal menjadi perhatian besar didalam surat itu. "Ayah, ternyata yang kau katakan benar, aku juga akan sepertimu.. Tapi kau selalu melarangku seperti mu, ternyata ini lah alasanmu, mengapa kau tidak pernah memanjakanku walaupun aku anak satu-satunya darimu, mengapa kau selalu memebuat banyak peraturan ketat didalam hidupku." Aku hanya dapat berharap dan berikhtiar, karena aku yakin Allah tidak akan menyulitkanku dalam hidupku, ini ujian ataupun sebuah cobaan, aku tetap akan bertahan. Memberikan semangat kepada diri sendiri, sama saja aku harus memberikannya kepada orang lain.
Sekarang aku sudah banyak menjalani banyak kisah didunia ini, walau serkarang ceritaku masih sampai cerita aku menuju kedewasaan. Karena sekarang aku masih berumur 20 tahun bertepatan bulan Juli kemarin. Aku sebenarnya telah digerogoti suatu penyakit yang semua orang tidak mengira dan atau mungkin semua orang tidak ada yang tau. Ya.. sebuah penyakit atau lebih gangguan yang diberikan oleh Allah, berupa penyempitan pembuluh darah di otak, dan terganggunya saraf otak belakang yang merupkan sumber sensitif kelumpuhan manusia. Itu terjadi, berawal dari sebuah kecelakaan, yang menimpa aku dan ayahku. Mobil yang dikendarai oleh ayahku menabrak mobil truk yang sedang melaju disamping kami pada malam itu. Untung saja kejadian itu, tidak merenggut nyawa kami. Benturan besar yang membuatku pingsan dan mengelurkan darah dari hidung dan telingaku. Saat itulah aku, tidak dapat sadarkan diri selama beberapa jam. Saat itu aku masih TK berumur sekitar 4 tahun. Ayahku kondisinya begitu parah, yaitu tangan tungkai kirinya patah, namun masih bisa diobati. Dan itu juga membuat beliau tidak dapat sadarkan diri. Kami berduapun dilarikan kerumah sakit.
Setelah beberapa hari dirumah sakit. Ayah sudah semakin membaik dan diapun berjalan menuju kamarku. Karena kamar kami terpisah. Saat itu aku masih berada di ruang UGD, namun aku sudah mulai sadar tapi badanku masih sangat lemah untuk bergerak. Ayah sambil tersenyum mendekatiku, dan mencium keningku.. "Maafkan ayah nak,..". Aku hanya bisa diam, karena aku tidak dapat berbuat apapun saat itu. Badanku dan semua anggota tubuhku masih belum dapat konpromi untuk bergerak. Wah, aku pikir aku akan lumpuh.
Semua keluarga sangat ramai, berkunjung.. dari tetanggaku, teman-teman kecilku..,.



Kamis, 03 Februari 2011

Artificial Intelligent.. (ESSAI Method human, math, and technology )


Would we as the human race want to produce an intelligence superior to our own ? If you think about it, in the long run we may need to just to survive.Think of the advantages for the first nation that produced an AI machine with an IQ 300, The AI machine could be given tasks such as improving the nation economy, cleaning up environment, ending pollution, developing military strategy, of course, designing still smarter machines than itself. It's possible that the next theory of the universe will not be put forth by a human but by a competent machine.

Why is the creating a superior intelligence so important ? Wouldn't humankind find the answers to all these vexing problem eventually ? Perhaps, The necessity of generating a superior AI is the best illustrated with a story. I once heard or read this story, I'm afraid , I don't remember the author and to him or her I aplogize. And if I have changed the story a bit in the retelling , I apologize for that also.

Ten chimpanzees are in a cage. The cage door is looked. The reason how to unlock the lock and open the cage door requires an intelligence quotient of approximately 90. Each chimp in the cage has been tasted, and each has IQ of about 60. Could the 10 chimps working together find a way to unlock the cage door ? The answer is NO! Intelligence is not accumulative. In real life the chimps remain caged.

In the real world, I have problemd involving global pollution, economics, diseases like cancer and AIDs, the general quest for longevity, and any and all facets of science research that can be subtituted for the lock on the cage door. The importance of generating superior AI becomes clearly apparent. The AI may be able to uncover keys to unlock these problems that until then will remain effectively hidden from us. So I don't believe this potential of superior artificial intelligence is being overlooked by the nations of the world.

Senin, 31 Januari 2011

Perjalanan Baru Seorang Sahabat


Sekarang dia bersama kemampuannya membuktikan bahwa dia juga lebih hebat dari saya. Setelah mendapatkan panggilan ke Jakarta, akhirnya dia berhasil merebut Beasiswa Study di Sidney. Walau hanya 6 Bulan, itu sudah sangat cukup untuk sementara katanya. Sangat senang... ya.. pastinya. Bagaimanapun juga dia dapat membanggakan kedua orang tuanya. Dan juga saya sebagai sahabatnya, juga sangat bahagia. Dia membuktikan janjinya kepada saya, "Kali ini kau ke Jepang, mas... tapi lain kali saya akan pergi juga" hehe. saya masih ingat katanya itu.
Benar seperti kata Albert "kemauan itu lebih besar kekuatannya dari pada hanya sebuah keinginan yang sia-sia". Dan dia telah mebuktikan teori itu, saya bangga kepadanya. Sahabat yang saling berbagi dan sahabat yang saling mengerti. Kami juga sadar kami sudah dewasa sekarang, apapun yang kami hadapi, harus kami pertanggung jawabkan. Satu hal yang dia tinggalkan kepada saya, yaitu sebuah kepercayaan.
Kepercayaan adalah suatu hal yang sangat istimewa menurut saya, selain ayah dan ibu saya, ternyata sekarang dia juga meniggalkan sebuah kepercayaan pada diri saya. Dengan itulah saya menghargai sekali hal itu. Dan saya akan menjaganya.
Mengingatkan lagi, bahwa sebuah kepercayaan, sangatlah mudah untuk dikatakan namun sangat sulit untuk dihayati pada awalnya. Apabila kita meyakininya pasti sebuah kepercayaan itu akan menjadi hal yang sangat berharga bagi semua orang.^-^

Senin, 16 Agustus 2010

Winterday In Hokkaido


Sedingin sebuah perjalanan yang sangat rumit tidak seperti biasnya. Dengan pakaian yang berlapis-lapis untuk pertama kalinya. Sangat menyenangkan sebenarnya dapat melihat lingkungan baru yang sangat nyaman. Akhirnya aku tinggal dengan sebuah keluarga host kecil yang sangat ramah. Untung saja mereka sangat fasih dalam berbahasa Inggris dan anaknya yang paling tua juga seumuran denganku juga dapat berbahasa Indonesia. Aku sangat terharu, saat di sambut ramah oleh mereka. Aku mendapatkan kamar sendiri yang cukup luas, kamar itu berada di loteng rumah. Ternyata sesudah menginjakkan kaki dirumah itu, udara yang luar sangat dinginmenusuk. Sekarang menjadi sangat hangat.

Jumat, 13 Agustus 2010



Setelah mendapatkan kabar dari Kedutaan Besar Jepang bahwa aku lulus dalam Tes AMJ schoolarship. Benar hal yang sangat mengejutkan bagiku. Terbayang gambaran bahwa aku akan berada di Jepang, negeri yang aku damba-dambakan untuk menuntut ilmu. Ternyata aku akan menginjakkan kakiku unutk petama kalinya di tempat impian itu. Benar-benar seperti mimpi bagiku. Tapi aku tidak boleh bermimpi. Disana bukan untuk bersantai-santai tapi untuk menuntut ilmu. Jadi aku katakan pada diriku bahwa aku tidak boleh bermain-bermain disana. Karena ini mungkin kesempatan kecil bagiku untuk kembali ketempat ini nantinya. Perjalanan dimulai, dengan banyak pesan yang ditinggalkan oleh dosen-dosen dikampusku. Tidak lups teman-teman satu kelas ku yang akan selalu merimdukanku. Dan yang paling penting adalah do'a restu dari ibuku tercinta, aku yakin ayahku juga ikut bahagia di surga sana. Memberanikan diri itulah yang harus aku tempuh. Ketempat yang benar-benar asing bagiku.

Sesampai di Jakarta, aku bertemu dengan teman-teman baruku yang juga mendapatkan AMJ Schoolarship. Terlihat wajah gembira bercampur sedih diraut muka mereka. Ternyata diantara 20 orang disekitar mereka, aku terkejut karena beertemu teman kecilku yang sekolah di Bandung. Wah... ternyata disini kita jadi tempat reuni , katanya...
Akhirnya pesawat lepas landas dengan kencangnya. Perjalanan selama 3 jam membuatku tidak bisa tidur. Masih terbayang tempat-tempat yang mungkin akan mengejutkan ku. Sesampai di Bandara, kami semua berangkat dengan bus menuju kedutaan besar Indonesia. Tepat sekalai kedatangan kami disambut oleh winterday yang sangat dingin bagi kami orang Indonesia.

Kamis, 12 Agustus 2010


Persahabatan tidak memandang jarak dan waktu. Tapi sebuah perjalanan yang harus terus di tempuh dengan sebuah persaingan dan pembelajaran hidup yang berharga. Mereka adalah teman-teman saya saat menjalani Study di Jepang. Beberapa teman baru yang sangat hebat, mempunyai kepandaian dan keahlian masing-masing. Sangat mengejutkan pada saat aku pertama kali memasuki kelas yang sungguh berbeda dengan kelas-kelas dikampusku. Kelas yang sangat luas dengan papan tulis besar dn layar monitor yang sangat besar. Siapa saja yang memasuki kelas ini, akan merasakan hal yang sangat luar biasa dan juga menakutkan dimana tempat ini seperti tempat yang memper kecil tubuh manusia dengan keagungannya. Namun semunya itu hanyalah salah satu keMaha Besaran-Nya yang Dia berikan kepada manusia.

Sebenarnya yang paling Agung dari semunya itu adalah persahabatan. Persahabatan yang tidak akan pernah terlupakan. Sahabat yang selalu mengajarkan banyak hal dari kehidupan( Kenzo ) , sahabat yang mengjarkan arti penting ketenangan untuk kebahagiaan ( Lin ) , sahabat yang mengajarkan arti teknologi tidak hanya untuk memudahkan kehidupan tapi untuk memahami kehidupan (Michael) , sahabat yang memberi pelajaran tentang cinta (Shino). Banyak lagi sahabat yang lainnya mempunyai sebuah pelajaran untuk dibagi. Sungguh selama 3 bulan bersama orang yang sangat asing bagiku, sangat menyenagkan.